TSANUBAKU – Dalam rangka memperkuat komitmen sebagai madrasah riset sekaligus meningkatkan kompetensi pendidik, MTs NU Banat Kudus menyelenggarakan kegiatan “Penguatan Metodologi dan Pendampingan Guru Riset MTs NU Banat Kudus” pada Sabtu–Ahad, 7–8 November 2026. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini menghadirkan narasumber, Bapak Dr. M. Miftakhul Falah, M.Pd., M.Si., dan diikuti oleh para guru pembina riset MTs NU Banat Kudus.
Kegiatan ini menjadi salah satu langkah strategis madrasah dalam membangun ekosistem penelitian yang berkelanjutan. Guru tidak hanya dipersiapkan untuk mendampingi peserta didik dalam menghasilkan karya penelitian, tetapi juga dibekali pemahaman metodologis agar mampu mengembangkan budaya berpikir kritis, ilmiah, dan inovatif di lingkungan madrasah.
Pada hari pertama, kegiatan dibuka dengan sambutan Kepala MTs NU Banat Kudus, Ibu Nor Khusomah, S.P., S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bentuk komitmen madrasah dalam mempertahankan eksistensi dan mengembangkan identitasnya sebagai madrasah riset.
Beliau menegaskan bahwa penguatan kompetensi guru, khususnya dalam bidang penelitian, menjadi kebutuhan penting agar madrasah mampu terus berkembang dan beradaptasi dengan tuntutan pendidikan. Guru pembina riset diharapkan memiliki kemampuan yang memadai dalam membimbing peserta didik, mulai dari menemukan ide penelitian hingga menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas.
Memasuki sesi inti, Dr. M. Miftakhul Falah menyampaikan materi secara bertahap dan aplikatif. Pembahasan hari pertama meliputi penggalian ide penelitian, penyusunan latar belakang, perumusan masalah, penyusunan landasan teori, serta penelusuran dan penyusunan tinjauan pustaka.
Tidak hanya berfokus pada pemaparan konsep, narasumber juga mengajak peserta terlibat aktif dalam kegiatan praktik. Dengan memanfaatkan media kertas plano, para guru melakukan klusterisasi berdasarkan subformat penelitian yang telah dipelajari. Aktivitas ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengorganisasikan gagasan, memetakan hubungan antarkomponen penelitian, serta memahami alur penyusunan proposal secara lebih sistematis.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif melalui diskusi, kolaborasi, dan praktik langsung. Para guru pembina riset memperoleh ruang untuk mengembangkan ide sekaligus memperkuat pemahaman terhadap tahapan awal sebuah penelitian.
Pada hari kedua, Ahad, 8 November 2026, kegiatan dilanjutkan dengan materi penyusunan metodologi penelitian. Dalam sesi ini, peserta diarahkan untuk memahami pentingnya menentukan pendekatan, metode, teknik pengumpulan data, serta langkah-langkah penelitian yang sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian.
Selain penguatan aspek teknis, pembahasan juga diarahkan pada upaya membangun budaya riset di lingkungan madrasah. Budaya riset perlu dikembangkan secara terintegrasi melalui tiga jalur pembelajaran, yaitu intrakurikuler, ekstrakurikuler, dan kokurikuler. Melalui intrakurikuler, nilai dan keterampilan berpikir ilmiah dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran. Sementara itu, kegiatan ekstrakurikuler dapat menjadi ruang pendampingan dan pengembangan minat penelitian peserta didik. Adapun kegiatan kokurikuler menjadi wadah penerapan pengetahuan melalui proyek dan aktivitas penelitian yang kontekstual.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para guru pembina riset MTs NU Banat Kudus semakin siap menjalankan peran sebagai pendamping dan fasilitator penelitian peserta didik. Lebih dari sekadar pelatihan metodologi, kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menumbuhkan lingkungan madrasah yang menjunjung tinggi budaya literasi, kreativitas, kolaborasi, dan tradisi berpikir ilmiah.
Dengan penguatan kapasitas guru dan pendampingan yang berkelanjutan, MTs NU Banat Kudus berkomitmen untuk terus mengembangkan kualitas pendidikan berbasis riset serta mencetak generasi yang kritis, inovatif, berkarakter, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.